Berbicara dan Menulis : Komunikasi

Komunikasi ialah satu kebutuhan yang sejatinya dimiliki setiap individu. Sebagai makhluk sosial yang kerap membutuhkan bantuan dari orang lain hendaknya berbaur dengan orang lain, mau tidak mau harus berkomunikasi. Tujuan jelas, untuk menyampaikan pesan ataupun meminta pesan (red:informasi).
Pentingnya komunikasi, membuatnya menjadi bagian dari hal-hal yang menjadi pendukung kesuksesan. Selangkah dalam penerimaan kerjapun, dilakukan tes dalam komunikasi, ialah wawancara.
Dalam teorinya, kemampuan komunikasi dibagi menjadi dua bagian besar. Berbicara dan menulis. Komunikasi secara langsung yang disampaikan oleh indera (red:mulut) ialah berbicara. Komunikasi lewat perantara berupa tulisan itulah komunikasi tulisan.
Keduanya merupakan kemampuan berkomunikasi. Secara fungsi, keduanya mampu memenuhi prinsip komunikasi.
Setidaknya, salah satu dari dua macam cara komunikasi tersebutkan dapat diunggulkan. Walaupun, tak sedikit juga orang yang unggul dalam keduanya. Seimbang dalam berbicara dan menulis. Ini akan menjadi lebih baik. Seibaratnya, memang ahlinya pengolah kata.
Ketika di satu sisi, orang lemah dalam menulis, tapi dikuatkannya dalam berbicara. Kemampuannya berbicara lebih unggul daripada menulis. Bicaranya mampu menggaet, mengajak bahkan mempengaruhi para pendengarnya. Sampailah tujuan komunikasi. Melibatkan ide-idenya dalam kolaborasi kata-kata yang bijak. Lancarnya mengolah ide dan kata membuatnya secara gamblang mampu menguasai pikiran pendengar untuk tertuju padanya. Namun, ketika ditugaskan untuk menulis, hasilnya malah ngambang tak karuan, bahkan ianya tidak paham hal yang akan dituliskan.
Adapula lemah dalam bicara namun kuatnya dalam menulis. Tulisannya yang kerap memotivasi, menumbuhkan semangat pembaca, mempengaruhi hingga hanya sebatas memberikan informasi. Olahan kata dirangkai menarik hingga pembaca terpana dalam tulisannya. Alhasil, prinsip komunikasi tersampaikan. Bila diperintahkan untuk bicara malah jadinya kalang kabut. Siuran kata dari mulut malah bisa mempermalukannya. Alhasil minder makin menjadi dan bicaranya kacau.
Nah, ketika kita lemah dalam menulis, cobalah untuk mengasah kemampuan berbicara. Begitupun sebaliknya, ketika lemah dalam berbicara, cobalah menitikberatkan kemampuam dalam menulis.
Sejatinya, setiap manusia hendaknya punya satu kemampuan yang dihandalkan dari keduanya itu. Komunikasi adalah kebutuhan dan bahkan bisa menjadi keterampilan.

Comments